Kepemimpinan merupakan jantung keberhasilan sebuah lembaga pendidikan, terlebih lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya dituntut melahirkan manusia cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia. Di tengah derasnya arus modernisasi, kebutuhan akan model kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai Islam menjadi semakin mendesak. Kepemimpinan yang tidak sekadar efektif secara manajerial, tetapi juga mampu menghadirkan keteladanan moral dan spiritual, menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan dan kualitas pendidikan Islam.
Buku “Kepemimpinan Profetik: Implementasi Sifat Nabi saw dalam Pendidikan Islam” karya Dr. Muhammad Nasri Dini, S.Pd.I., M.Pd., yang diterbitkan oleh Indiva Mitra Pustaka Surakarta pada Januari 2026, hadir sebagai tawaran konseptual sekaligus praktis mengenai model kepemimpinan pendidikan Islam yang berlandaskan nilai-nilai kenabian.
Pembahasan dalam buku berukuran 14 × 20 cm ini berangkat dari kegelisahan penulis terhadap praktik kepemimpinan di dunia pendidikan, khususnya lembaga pendidikan Islam, yang kerap terjebak pada pola manajerial modern namun miskin keteladanan moral dan spiritual. Penulis yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Tabligh PDM Sukoharjo menegaskan bahwa kepemimpinan dalam Islam tidak dapat dilepaskan dari konsep amanah dan pertanggungjawaban, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah swt. Dalam kerangka ini, Nabi Muhammad saw diposisikan sebagai teladan kepemimpinan paripurna yang berhasil membangun peradaban berbasis nilai, akhlak, dan kecerdasan.
Secara sistematis, buku dengan ketebalan sekitar 135 halaman ini menguraikan empat sifat wajib Nabi saw—ṣidīq (jujur), amānah (terpercaya), tablīgh (komunikatif), dan faṭhānah (cerdas)—sebagai fondasi utama kepemimpinan pendidikan. Keempat sifat tersebut tidak hanya dijelaskan secara normatif-teologis melalui dalil Al-Qur’an dan Hadis, tetapi juga dianalisis relevansinya dengan teori kepemimpinan modern serta praktik kepemimpinan di lembaga pendidikan. Pendekatan ini menunjukkan upaya penulis dalam menjembatani nilai-nilai Islam dengan tuntutan profesionalisme pendidikan masa kini.
Keunikan buku ini semakin tampak pada pembahasan implementatif melalui studi kasus di Pondok Pesantren Modern Imam Syuhodo Sukoharjo. Penulis menggambarkan secara rinci bagaimana nilai-nilai kepemimpinan profetik diterapkan dalam pengelolaan pesantren yang memadukan sistem pendidikan Islam dengan manajemen modern. Analisis terhadap faktor pendukung dan penghambat kepemimpinan profetik memberikan gambaran realistis bahwa penerapan nilai-nilai kenabian menuntut komitmen kuat, budaya organisasi yang sehat, serta keteladanan pemimpin yang konsisten.
Dari sisi keunggulan, buku ini menampilkan integrasi yang kuat antara kajian konseptual dan realitas empiris. Bahasa yang digunakan relatif komunikatif dan reflektif, sehingga mudah dipahami oleh kalangan akademisi, praktisi pendidikan, pengelola pesantren, maupun pemerhati kepemimpinan Islam. Selain itu, kekayaan rujukan dan kedalaman analisis menjadikan buku ini layak dijadikan referensi ilmiah dalam kajian kepemimpinan pendidikan Islam.
Meski demikian, karena bertumpu pada satu studi kasus, cakupan generalisasi buku ini masih terbatas. Namun, keterbatasan tersebut tidak mengurangi nilai ilmiahnya; sebaliknya, hal ini justru membuka peluang bagi penelitian lanjutan di berbagai konteks lembaga pendidikan Islam lainnya.
Secara keseluruhan, “Kepemimpinan Profetik” merupakan karya yang penting dan relevan di tengah kebutuhan akan model kepemimpinan pendidikan yang berintegritas, visioner, dan berakar pada nilai-nilai Islam. Buku ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sistem dan kebijakan, tetapi terutama oleh kualitas kepemimpinan yang meneladani akhlak dan kecerdasan Nabi Muhammad saw. || Andika Rahmawan
0 komentar:
Posting Komentar